MENDIDIK REMAJA TANPA HARUS MELAWAN (resensi yang ku kirim ke media)


MENDIDIK REMAJA TANPA HARUS MELAWAN

Judul Buku       : You Can Say No to Your Teenager

Penulis              : Jeanette Shalov,M.S, dkk

Penerbit            : PinkBooks, Yogyakarta

Cetakan           : I, April 2004

Halaman           : vii + 260 halaman

 

            Selamat datang di dunia remaja, dunia penuh dengan pencarian, amarah, dan bahkan penuh dengan eksperiman. Remaja selalu mempunyai keinginan untuk mencoba segala suatu, bahkan tak jarang karena sifatnya itu dia menjadi jauh dengan Anda. Remaja lebih suka bergaul dengan temannya, karena itu jangan heran jika dia mulai sering pulang larut malam. Belum lagi jika Anda lebih luas melihat kehidupan remaja masa sekarang, narkoba, tawuran, bahkan hingga seks bebas, identik dengan kehidupan remaja masa kini. Fenomena ini sering membuat khawatir para orangtua, tak jarang ada orangtua yang begitu ketakutan hingga terlalu mengekang anak remajanya.

            Menjadi orang tua remaja memang penuh perjuangan dan kekhawatiran –walaupun kita pernah merasakan masa remaja. Dan saat ini adalah waktunya Anda bercermin tentang kehidupan Anda saat remaja. Remaja masa sekarang berbeda dengan remaja dahulu. Kini dalam kehidupan yang semakin  meng-global tantangan orang tua semakin berat, tingkah  laku remaja pun semakin rumit untuk dipahami.

            Pada bagian awal buku ini penulis menjelaskan bahwa untuk bisa memahami nilai-nilai anak remaja, Anda harus terlebih dahulu memahami nilai-nilai Anda sendiri.  Nilai disini adalah garis-garis pedoman yang dengannya (anak remaja) kita akan menyukai jalan kehidupan kita, meski terkadang kita gagal dalam mengikutinya.

            Sebagai contoh, kebanyakan dari kita sering mengatakan bahwa kita mempercayai nilai “jangan pernah berbohong”. Tetapi kita juga mengetahui dari waktu ke waktu kita memalsukan kebenaran.Telepon berbunyi, dan kita akan mengatakan pada anak kita “tanyakan dulu siapa, jika Tuan baker katakan ibu tidak ada” atau membuat surat ijin sekolah untuk anak agar sekeluarga bisa pergi berakhir pekan (hal.20).

            Apakah hal tersebut terlihat biasa saja? Perbuatan seperti itu justru membuat anak remaja anda memandang bahwa kebohongan itu hal biasa. Penanaman nilai moral sejak dini memang diperlukan untuk perkembangan tingkah laku anak, namun hal itu juga harus diikuti dengan kenyataan yang terjadi dilapangan.

            Lebih dalam lagi penulis menjelaskan tentang berbagai permasalahan dalam kehidupan anak remaja, mulai dari perilaku di rumah yang terkadang sering membuat Anda jengkel, atau tentang hubungan pertemanan anak remaja anda dengan teman-temannya dan mengenai tren (mode, dll) dalam kehidupan anak remaja anda (hal. 93)

            Masalah seksualitas tak luput dari pandangan penulis, mereka menjelaskan setiap anak harus mendapatkan pendidikan seksual yang baik –dan ini bukan hanya menghadiri kelas yang membahas seks disekolah. Bidang seksualitas adalah pokok bahasan nilai-nilai keluarga yang paling penting. Karena hal-hal yang berbau seks merata di sekitar kita, mau tidak mau para orang tua harus memberikan fakta-fakta tentang seks kepada anak-anaknya – tentunya dalam sistem-sitem nilai-nilai keluarganya, sehingga informasi yang disampaikan melalui diskusi-diskusi dan percakapan-percakapan bukan fakta-fakta mengenai perbuatan fisik semata, namun juga melibatkan komponen emosi dari seks (hal 136).

            Membaca buku ini secara tidak langsung akan membuat Anda sadar akan beberapa kesalahan Anda dalam mendidik anak remaja Anda. Tak hanya itu saja penyampaian tulisan dalam buku ini juga menjadi mudah dipahami, karena dalam setiap menjelaskan suatu cara atau masalah selalu diberikan contoh kisah tentang permasalahan tersebut.

            Akhirnya, disini dijelaskan bahwa mengatakan tidak bukanlah respon tanpa pemikiran, otokratis, atau negatif terhadap jenis perilaku yang mengancam, atau menyimpang dari kebiasaan, atau perilaku yang ganjil apapun. Mengatakan “tidak” berasal dari satu posisi yang punya kekuatan dan keamanan. Maksudnya adalah berkata “tidak” setelah menoleh kembali ke masa remajanya sendiri, serta terlebih dahulu berkonfrontasi dan menganalisis sistem nilainya sendiri dari posisi yang tidak defensif, sehingga karenanya mampu berkata “tidak” kepada anak-anak remajanya dengan aman dan tenang pada saat yang tepat dan terhadap persoalan yang tepat (hal. 45).

            Orang tua yang memiliki keberanian berkata “tidak” telah mempelajari bagaimana mengubah pola perilaku negatif seorang remaja menjadi perilaku yang positif, yang pada gilirannya membangkitkan kembali pengalaman seluruh keluarga. Oleh karena itu, mampu berkata “tidak” sebenarnya berarti memiliki keberanian untuk mengatakan “iya”; terhadap sistem nilai positif yang telah anda rangkul dan Anda harapkan akan dirangkul oleh kelurga Anda.

 

Penulis

Faiz Mudhokhi

Mahasiswa Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, UNY

 

                  

2 thoughts on “MENDIDIK REMAJA TANPA HARUS MELAWAN (resensi yang ku kirim ke media)”

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s