BELAJAR DARI SEBUAH KISAH (Sebuah resensi yang ku kirim di media)


BELAJAR DARI SEBUAH KISAH

Judul: KALILAH wa DIMNAH Fabel-fabel Kearifan

Penulis: Ibn Al-Muqoffa’

Penerbit: Pustaka Sufi, Yogyakarta

Cetakan: I, Maret 2003

Tebal: 298 halaman

Pada awalnya adalah sebuah kisah. Dalam kehidupan sufi, kisah-kisah menempati posisi yang unik. Kisah tidak sekedar dongengan buat anak-anak sebelum tidur, tapi menjadi salah satu pedoman dalam melaksanakan dakwah mereka. Tak hanya di serambi-serambi pendidikan resmi seperti pengajian di pesantren, tapi juga dalam keluarga.

Kisah, dan kemudian banyak orang menyamakannya dengan dongeng, menjadi peralatan yang cukup ampuh dalam rangka mengajak orang untuk mengikuti nilai tertentu. Dengan kisah orang tidak merasa digurui untuk mengikuti sebuah nilai, terutama sekali nilai-nilai religius. Pentingnya kisah dalam wacana pendidikan sufi melahirkan mutiara-mutiara kisah yang tak terkira jumlahnya.

Kisah adalah cermin. Maka demikianlah, Baydaba –seorang filsuf agung India- membuat sebuah karya yang ditujukan kepada Raja Dabysyalim (seorang raja India yang ditaklukan Iskandar Agung pada 226 SM). Karya ini, yang kemudian disadur al-Barzawiy ke dalam bahasa Persia , dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Ibn al-Muqoffa’ menggemakan nilai etis-moral (futuwwah) dan religiusitas bagi masyarakat dengan menggunakan model fabel (kehidupan binatang yang dipakai sebagai kiasan untuk mendidik masyarakat) agar tulisannya mudah dicerna oleh dan dipahami oleh siapa saja yang membaca.

Komposisi karyanya dibuat dengan cerita berbingkai yang bersifat didaktis (baca: berisi aneka macam kisah yang memuat pelajaran tentang berbagai aspek guna dijadikan teladan bagi setiap insan). Diantara empat belas bab yang ditulis ada yang diberi judul Kalilah wa Dimnah yang merupakan kisah fabel yang sengaja guna menjadi tamsil dan perumpamaan kehidupan manusia, agar mudah dpahami khalayak umum dan bisa dicerna semua kalangan serta menjadi kajian yang menarik bagi mereka yang merenungkannya.

Dalam karya Kalilah wa Dimnah, Baydaba memulai pembahasannya tentang jalinan persahabatan dua kawan karib dan bagaimana keduanya mulai membangun persahabatan. Juga bagaimana persahabatan tersebut bisa menjadi putus akibat ulah pihak ketiga yang hipokrit (hal. 1-66). Alasan Baydaba menggunakan para hewan sebagai tamsil pembelajaran kepada manusia dikarenakan dia pernah mendengar seorang ahli hikmah yang berkata: “Jika hikmah diungkapkan dengan bahasa yang lugas, akan hilang nilai hikmahnya, sebab sentuhan hikmah adalah sentuhan hati, bukan hanya sekedar sentuhan akal. Dengan menggunakan perilaku binatang, tidak akan ada orang yang tersinggung, demikian juga dengan binatangnya. Dengan begitu bisa diperoleh dua target sekaligus, orang umum akan bisa mudah memahami dan orang cendikia akan bisa menajamkan pikirannya untuk merenungkan.” (hal.lv)

Kisah adalah cermin kehidupan. Maka demikianlah, mengapa banyak orang seperti terbawa hanyut ketika sebuah kisah dituturkan. Apalagi bila cerita itu dituturkan dengan seni bertutur yang indah dan menarik. Dan umumnya bentuk kisah itu sederhana, namun darisanalah bertaburan nilai-nilai salih yang tak terhingga.

Pengirim:

Faiz Mudhokhi

Terban GK V / 169 Yogyakarta 55223

faizgibran@yahoo.coms

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s