BELAJAR MENJADI “KIRI” (sebuah resensi yang kukirim ke media)


BELAJAR MENJADI “KIRI”

Judul Buku: Epistimologi Kiri

Penulis: Listiyono Santoso, Sunarto, dkk

Penerbit: Ar-ruzz, Yogyakarta

Cetakan: I, September 2003

Tebal: 352 halaman

Dalam kehidupan sehari-hari, istilah “kiri” sering kali di gunakan sebagai lawan dari kanan. Tetapi, terminologi ini menjadi lain ketika dihadapkan dalam dimensi pemikiran. Istilah kiri selalu dianggap sebagai kata yang memiliki makna menantang, melawan sekaligus “mengobrak-obrik” setiap tradisi yang dianggap mapan, serta suata hal yang memiliki peran penting dalam munculnya ide-ide yang merubah keadaan.

Selama ini, masyarakat Indonesia terjebak dalam konstruksi kesadaran yang salah kaprah, bahwa pemikiran yang tidak sesuai dengan yang lain dianggap sebagai model pemikiran kiri. Ditambah lagi dengan adanya anggapan bahwa “kiri” dianggap sama dengan “komunis”. Padahal pemikiran kiri merupakan sebuah wacana yang berisi tentang pemikiran dan gerakan sosial yang senantiasa melawan dan mengkritik semua kemapanan, terutama kemapanan kekuasaan otoriter serta kapitalisme modern.

Dalam perspektif epistimologi, pemikiran dan gerakan “kiri” sesungguhnya diletakkan pada pembacaan ulang secara kritis atas berbagai bentuk pengetahuan yang dominan, yang kemudian diperlakukan sebagai kebenaran satu-satunya. Dengan demikian, perspektif “kiri” dalam konteks ini bermaksud sekedar membongkar asumsi dasar epistomologi penyusunan sebuah pengetahuan. Keberhasilan pembongkaran tidak saja akan meruntuhkan pilar-pilar yang menyusun sebuah pengetahuan, tetapi juga akan menjadi kekuatan efektif untuk mengubah keadaan-keadaan formal yang manipulatif (hal 17).

Pada dasarnya, beberapa filsuf kontemporer yang dianggap “kiri” seperti, Karl Marx, Foucoult, dan filsuf lainya, merupakan inspirasi dari hasil pemikiran dan gerakan “kiri” pada saat ini. Untuk lebih mengetahui bagaimana pemikiran para filsuf “kiri”, dalam buku ini akan dijelaskan pemikiran mereka. Walau isi buku bisa dianggap sebagai kumpulan dari “serpihan” pemikiran para filsuf tersebut, namun dapat menjadi bacaan pembuka untuk mempelajari pemikiran mereka secara lebih lanjut.

Dalam buku ini terdapat 13 tokoh dunia yang bisa dikategorikan “kiri”. Tokoh pemikiran para filsuf “Kiri” yang dibahas dalam buku ini dimulai dari tokoh Karl Heinrich Marx (1818-1883) yang telah melahirkan pradigma materialisme dialektis dan materialisme historis. Dalam buku ini, Listyono lebih membongkar pada sisi paradigma materialisme dialektis dalam epistimologi Karl Marx (hal 35).

Tokoh yang kedua adalah Friedrich Wilhelm Nietzche (1844-1900) yang mendekonstruksi kemapanan akal dan juga kehendak untuk berkuasa (The will to power) yang dielaborasi dari rumusan “survival of the fittest”. Isi dari pemikiran ini adalah bahwa manusia itu akan menjadi agung jika memadukan secara harmonis dari tiga hal, yaitu kekuatan, kecerdasan, dan kebanggaan (hal 51).

Tokoh selanjutnya yang termasuk kategori “Kiri” dalam buku ini adalah Antonio Gramscu. Gramsci adalah seorang tokoh yang lahir dari sebuah kondisi yang penuh dengan heroisme di bawah kekuasaan fasis Benito Mussolini. Oleh karena itu, teori yang di buat Gramsci adalah teori yang berkenaan dengan politik dan kekuasaaaan yang revolusioner. Dalam magnum opusnya, Prison Notebook, dia melakukan berbagai kritik dan rekonstruksi mainstream pemikiran yang terngah berkembang. Sedangkan teori terkenal yang menjadi bagian dari kemasyhurannya adalah Teori Hegemoni (hal 71).

Selain tokoh-tokoh “kiri” dari barat, ada juga tokoh pemikir Islam yang dicap “kiri” oleh zamannya. Salah satunya adalah Mohammad Arkoun yang melakukan rekonstruksi terhadap Al-Qur’an dengan cara yang kritis. Arkoun mengkritik tradisi ortodoks yang didominasi oleh logosentrisme dan juga mengkritik obyektivisme dan positivisme (hal 195).

Semua tokoh dengan pemikiran mereka di dalam buku ini telah dikaji dan dielaborasi secara komprehensif dan proporsional. Komprehensif karena memerinci berbagai kata yang bisa mempengaruhi pemikiran para tokoh tersebu (hal 12), dan proporsional karena dikaji oleh penulis yang masih berkutat dalam bidang filsafat di Universitas Gadjah Mada. Selain itu pada akhir tulisan dalam setiap pembahasan tokoh selalu dicantumkan daftar pustaka, sehingga hal itu dapat membantu pembaca yang berkeinginan memperdalam pemikiran tokoh tersebut. Dan Selamat Menjadi “Kiri”.

2 thoughts on “BELAJAR MENJADI “KIRI” (sebuah resensi yang kukirim ke media)”

  1. Thanks atas apresiasinya!
    Kiri itu pelangi, sekarang “kiri” itu macem-macem…bahkan gur dur pun bisa dibilang kiri…banyak banget kok buku tentang kiri..
    cari aja di toko buku, tapi jangan di Gramedia! itu saja!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s