MEM-BAJUL atau MENCARI CINTA


MEM-BAJUL atau MENCARI CINTA

(Kisah Ke-jomblo-an Warga PMII Komisariat Hasyim Asyarie UNY)

Oleh: Faiz Muhammad Gibran Ar-Rumi Mudhokhi*

Melihat judulnya pasti anda sudah tahu kalau itu adalah judul buku seorang kawan, Muhidin M Dahlan. Buku itu adalah sumber inspirasi penulis dalam bercinta maupun menulis surat cinta. Dan, penulis berani mengakui (walaupun agak sedikit malu) kalau murid yang dimaksud oleh sahabat Ali Formen Yudha adalah penulis dan beberapa kawan. End of Story.

Berbicara tentang cinta, terutama di PMII, berarti Anda harus mengajak diskusi sahabat Rumawi. Pasalnya, menurut penulis beliau (untuk mengganti kata dia) adalah seorang sahabat yang paling sering berbicara yang berhubungan dengan cinta, misalnya, wanita, pacaran dan lain-lain. Dari gaya bicaranya, beliau terlihat seperti (mungkin aslinya) adalah tipe laki-laki yang sangat pengalaman dengan cinta. Tetapi ternyata, (sekali lagi) sepertinya disini (PMII) beliau tidak memiliki pasangan (semoga tidak ya Mas Rum!).

Mendapatkan pasangan (alhamdulillah jodoh) di sini – mungkin- adalah salah satu motivasi masuk ke dalam organisasi ini. Bukan tidak mungkin, soalnya ada beberapa sahabat yang mendapatkan jodoh di organisasi ini. Mungkin itu salah satu sebabnya jika penulis lihat para sahabat (kebetulan laki-laki semua) yang tinggal di sekretariat PMII semuanya agresif terhadap perempuan. Makanya, tidak heran jika anda adalah gadis (meng-generalisasikan semua wanita, soalnya gadis itu ada yang akhwat maupun cewek dengan baju ketat) pasti bakal dibajuli (digoda, mau dong!).

Kebiasaan mem-bajul mungkin adalah salah satu pelampiasan karena tidak mempunyai cewek, atau mungkin adalah kebiasaan (menurut salah satu sahabat, warga PMII biasanya memiliki potensi yang tinggi untuk jadi Plaboy) turun temurun. Di komisariat (sebutan sahabat-sahabati pada sekretariat PMII UNY), mayoritas memang belum mempunyai pasangan. Maka setiap malam minggu di komisarait pasti rame, bukan karena banyak pacaran, tetapi lagi mem-bajul tetangga ataupun orang yang lewat (yang jelas perempuan).

***************

Bagi sahabat-sahabati di komisariat, pacaran adalah nomor kesekian. Hampir tak ada warga komisariat yang memiliki pacar. Menurut sahabat Thobroni (konon, sahabat yang satu ini punya pacar di PMII tapi tidak mengakui), kenapa tidak pacaran itu hanya masalah prioritas saja, akunya. Tetapi jika merunut kisah beberapa tahun yang lalu hingga sekarang, ternyata banyak sahabat-sahabati di PMII UNY yang berusaha untuk mendapatkan cinta.

Tengok saja sahabat MM (baca Novel Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta karya Muhidin M Dahlan), penulis kenal beliau sejak SMA kelas 1. Kisah cintanya memang sulit, bisa di istilahkan dengan berulangkali jatuh dan berulangkali bangun. Namun, memang benar, witing tresno jalaran soko kulino. Akhirnya beliau berhasil juga, tetapi baru tahap pacaran dan tak kunjung menikah juga.

Keberhasilan sahabat MM adalah salah satu contoh beberapa sahabat di komisariat untuk mencari pasangan. Mendapatkan pasangan (pacar) di PMII berarti salah tanda keberhasilan masa depan, karena jika sudah mendapatkan pacar berarti tinggal mencari pekerjaan dan akhirnya ……..berarti menikah. Kenapa seperti ini? Berdasarkan riset penulis dengan metode wawancara secara langsung, sahabat di komisariat termasuk tipe laki-laki yang setia. Latar belakang sifat setia mereka juga bisa di landasi (semoga tidak, sahabat!!!) karena cover muka yang bisa digolongkan (maaf, ya!) minim. Karena itu mereka sangat bersyukur sekali mendapatkan pacar, yang insya allah cantik luar dalam.

Mendapatkan pacar yang cantik luar dalam merupakan anugrah terindah yang pernah dimiliki sahabat di komisariat. Sekali lagi, (Insya Allah) contohnya adalah sahabat MM. Berbagai usaha dilakukan demi mendapatkan pasangan, salah satunya adalah mengikuti MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru). Lihat saja perbandingan jumlah panitia dan calon anggota? Pasti lebih banyak panitia. MAPABA (mungkin) adalah salah satu media untuk mencari pasangan (terutama para sahabat). Selain itu ada juga media lain yang lebih luas lagi, PKL (Pendidikan Kader Lanjut) yang diadakan oleh cabang. Pada pelaksanaan PKL, sahabat-sahabat yang menjadi peserta adalah kader yang telah mengikuti PKD (Pendidikan Kader Dasar) di tingkat komisariat. Pada kegiatan ini pesertanya adalah lintas universitas, maka bagi yang ingin mendapatkan pasangan beda universitas bisa menggunakan media ini.

Persaingan! Sepertinya, kata-kata itu tidak berlaku di komisariat ini. Jika ada salah satu penghuni komisariat yang jatuh cinta, biasanya seluruh penghuni justru mendukung dengan sekuat tenaga. Atau, mendukung dengan melakukan intrik yang (sedikit) mendukung, atau jika tidak malah menjatuhkan. (masalah intrik sepertinya bakal diulas dengan tuntas oleh sahabat Ryan!).

***************************

Pada intinya, semuanya adalah mencari. Kenapa kita masuk PMII? Karena kita mencari sesuatu di PMII. Memang benar kata sahabat Rumawi (sekali lagi, ya!), masuk PMII bukan di cari, tetapi mencari (walapun kini terbalik, mungkin!). Mencari adalah takdir setiap insan. Kita tidak mungkin jika kita seperti ini tanpa mencari. Entah itu mencari sahabat, wacana baru, atau -yang kita bahas sekarang- cinta.

Mencari cinta itu dengan wajar. Cinta itu tidak datang karena Anda terlalu grapyak (ramah) pada setiap orang, bisa jadi justru malah “menjatuhkan” Anda. Karena beberapa waktu lalu, saya tidak sengaja (soalnya saya disebelahnya ketika beliau curhat) mendengar kalau dia merasa tidak comfortable dengan ke-grapyak-annya. Pasalnya, gara-gara grapyak-nya, sahabat-sahabat (laki-laki) jadi mudah untuk plak-plek dengan beliau.

Mencari cinta itu tanpa paksaan. Jika kita memaksa untuk mendapatkan cinta, usianya pasti tak kan lama. Selain itu jika kita tak mendapatkan cinta, bukan berarti putus hubungan teman. Konon, salah satu sahabat yang “menembak” seseorang namun ditolak dan hampir saja beliau tidak mau berbicara atau sekedar say hello saja sungkan. Jika tidak di ojok-ojok-i mungkin akan selama tidak mau bicara satu sama lain karena sungkan.

Semua itu ada waktunya, bahkan pacaran pun nanti ada waktunya. Jika ada beberapa sahabat yang tidak mau mencari pasangan berarti dia mempunyai niat seperti itu (maaf! Untuk mengganti kata tidak laku). Seperti kata sahabat Thobroni, masalah pacaran atau tidak adalah masalah prioritas. Untuk saat ini berarti lebih baik meprioritaskan kuliah atau organisasi, dan setelah itu baru pacaran.

************************

Berbicara mem-bajul ataupun mencari cinta adalah sebuah pilihan. Tepatnya pilihan bagi para jomblo pada umumnya, dan warga komisariat pada khususnya. Mem-bajul adalah sebuah kegiatan yang mungkin bakal tidak mungkin akan hilang dari komisariat ini. Selain karena strategis –banyak dari tetangga rumah adalah kost putri ataupun karena di pinggir jalan-, mungkin juga karena fitrah manusia (khususnya laki-laki) yang tertarik pada sesuatu yang indah terutama akhwat eh.. maaf perempuan.

Pada persoalan terakhir ini, mencari cinta, adalah sebuah perjuangan panjang laki berliku. Kecantikan atau ketampanan bukan merupakan penilaian utama dalam mencari cinta, namun ada pertimbangan lain yaitu dalamnya (usus, jantung tidak termasuk). Kecerdasan, rendah hati, baik budi, panjang tangan eh..maaf! ringan tangan, juga merupakan beberapa penilaian yang digunakan. Jadi, jangan seperti sahabat gugun, “lebih baik homo dari pada tidak laku”. Karena lebih baik jomblo pada saat sekarang, dan reguklah nikmat pacaran setelah menikah.

*Penulis adalah mahasiswa Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP UNY dan pernah kuliah di Akademi Komunikasi Yogyakarta. Selain ikut PMII, juga ikut beberapa organisasi intrakampus UNY.

PS: Tulisan kontribusi di buku Grundelan Kaum Santri Kota, PMII UNY

One thought on “MEM-BAJUL atau MENCARI CINTA”

  1. Sama saya juga gitu, dulu di PMII tidak punya pacar.

    Didik hadi Purnomo,S.Pd
    Mantan Sekretaris PMII UNY
    Teknik Elektro 96

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s