MEWASPADAI TUPLOG (sebuah tulisan)


MEWASPADAI TUPLOG[*]!

Oleh: Faiz MH

Tanggal 5 April 2004 adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pada hari itu negara kita mengadakan Pemilu (pemilihan umum) yang ke-9. Sebelumnya, kita akan di”suguhi” kampanye para partai peserta pemilu yang pada pemilu kali ini di ikuti oleh 24 partai politik. Pada saat kampanye, masing-masing partai mulai menyodorkan program-programnya, mulai dari pemberantasan korupsi (yang sampai kini belum terlaksana) hingga pembebasan biaya pendidikan. Ditambah lagi dengan janji-janji para caleg (calon legislatif) yang semakin melengkapi program masing-masing partai.

Pemilu kali ini memang berbeda, karena kita tak hanya memilih partai saja, tetapi juga memilih caleg partai tersebut. Selain itu pada 5 Juli 2004, kita juga akan melakukan pemilu untuk menentukan presiden dan wakil presiden RI. Apakah perubahan ini akan merubah keadaaan Indonesia?, pertanyaan seperti itu sering kita temui di berbagai tempat. Hal tersebut di sebabkan trauma karena kejadian masa lalu (pemilu yang lalu) yang ternyata tidak membuat perubahan yang signifikan di Indonesia. Krisis moneter 1997 dampaknya masih terasa, pengangguran kian banyak, dan rakyat miskin kian bertambah.

Keadaan tetap seperti ini pastilah membuat orang-orang berpikir. Ada anggapan bahawa Pemilu adalah sebuah parodi yang bisa kita saksikan setiap lima sekali. Orang-orang itu adalah mereka yang pesimis terhadap pemilu atau sering disebut golput atau golongan putih (meminjam istilah KM FIP golput= golongan putus harapan). Dalam setiap pemilu, golput pasti selalu ada. Bila beberapa dekade yang mereka melakukan secara sembunyi, kini mereka mulai berani terang-terangan menunjukkan ke-golput-annya. Fenomena seperti ini merupakan salah satu ancaman untuk menuju sukses pemilu.

Kita tidak menyalahkan ke-golput-an mereka. Mereka (orang golput) menganggap bahwa golput (tidak memilih) adalah hak setiap warga negara. Kadang mereka (yang muslim) melakukan apologi dengan membawa kejadian pada masa pengangkatan empat sahabat rasul sebagai khalifah. Diriwayatkan, beberapa sahabat terkemuka tidak memberikan bay’ah, alias tidak memilih dan memberikan dukungan.

Menurut Rahman (KR:2004), yang perlu diwaspadai pada mereka adalah jika mereka terjebak dalam suatu kerangka pikiran yang sempit dan sebetulnya dibuat oleh seseorang yang memang bertujuan untuk mengacaukan jalannya pemilu, atau mereka-mereka yang yang sebenarnya memang tidak ingin melihat bangsa Indonesia berjalan menuju jalan yang lebih baik. Diperkirakan jumlah golput pada tahun akan bertambah. Bisa di bayangkan bila mereka berjumlah 10% dari total rakyat Indonesia yang memiliki hak pilih maka jumlah golput adalah 20 juta orang.

20 juta bukanlah sebuah angka yang kecil, dengan suara sebanyak kita dapat menentukan masa depan bangsa ini. Kesuksesan pemilu memang bukan di nilai dengan jumlah pemilih yang menggunakan hak pilihnya. Tetapi, kesuksesan pemilu adalah munculnya kesadaran masyarakat ikut serta dalam menentukan arah bangsa kita yaitu dengan memilih wakil rakyat yang bersih dan mampu membawa aspirasi kita.


[*] Di baca terbalik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s