Sebuah PLEDOI waktu ku di maju di MK KM FIP UNY gara ditolak jadi calon


SURAT PEMBELAAN

Terhadap Penggunaan IPK 2,75 sebagai syarat

calon Ketua BEM FIP UNY

Berasumsi pada:

Peraturan akademik Universitas Negeri Yogyakarta yang menyatakan:

Penilaian Keberhasilan studi empat semester pertama:

Pada akhir empat semester pertama, mahasiswa diwajibkan:

1. Menyelesaikan minimal 30 SKS

2. Mencapai Indeks Prestasi minimal 2,00

3. Tanpa nilai E

Apabila dalam empat semester pertama mahasiswa mampu mengumpulkan minimal 30 SKS, maka untuk penilaian keberhasilan studi tersebut diambil 30 SKS mata kuliah yang nilainya tertinggi. Bila syarat tersebut tidak dipenuhi, maka mahasiswa yang bersangkutan dinyatakan tidak mampu dan dikeluarkan dari UNY.

Undang-undang Pemilihan Umum Keluarga Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta pada pasal:

Pasal 5 tentang syarat calon ketua BEM, KM, atau HIMA pada:

Ayat 2 yang berisi:

“ Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta dan masih aktif menjadi mahasiswa”.

Serta, ayat 8 yang berisi:

“ Memiliki kemampuan akademik dan berwawasan luas”.

Tulisan Howard Gartner pada bukunya Multiple Intelegences dan Goleman pada bukunya Emotional Intelegence, yang secara eksplisit menjelaskan bahwa:

Esensi seorang pemimpin tidak dapat dinilai dari kemampuan logika dan linguistik (IPK) saja, namun dinilai dari kemampuan dia dalam memanajemen organisasi maupun manajemen konflik serta kemampuan berinteraksi sosial.

Berdasarkan asumsi diatas kami selaku TEAM KEMENANGAN FAIZ M H (TEMAN FAIZ) dengan ini menyatakan tidak setuju dengan penggunaan persyaratan IPK 2,75. Selain itu asumsi yang digunakan KPU (Hari Sabtu, tanggal 23 Oktober 2004, pukul 13.30, bertempat di Kantor Keluarga Mahasiswa FIP UNY) untuk legalkan hal itu sangat tidak relevan, yang menyatakan bahwa: IPK 2,75 (tinggi) itu sangat membantu dalam melakukan bargaining power dengan pihak dekanat.

Serta, tindakan KPU dalam memutuskan Kandidat Faiz M H untuk tidak meloloskan kandidat sangat tidak fair, karena keputusan itu diambil setelah kandidat mendapatkan nomor urut calon (yang pada hal ini mendapat nomor 2) yang berarti kandidat lolos menjadi calon. Kejadian itu sangat menunjukkan bahwa ada unsur penjegalan tersengaja terhadap kandidat.

Menurut asumsi kami, dalam proses bargaining power dengan dekanat, kemampuan yang diandalkan tidak mengandalkan kepada seorang ketua BEM dengan predikat IPK 2,75 (tinggi), melainkan kepada kemampuan lobbying serta didukung oleh staf-staf pengurus lainnya.

Selain itu, penggunaan IPK 2,75 secara tidak langsung telah melakukan praktik diskriminasi terhadap seluruh mahasiswa FIP. Karena dengan syarat itu, berarti tidak memberikan kesempatan kepada seluruh mahasiswa FIP – yang mungkin mempunyai potensi maupun kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin namun IPK-nya tidak mencukupi – untuk dapat mencalonkan diri sebagai ketua BEM.

Saya berharap ada sebuah win-win solution yang membuat kita lebih legowo, sehingga dapat menciptakan suasana yang dinamis serta mempersatukan seluruh pihak. Sebagai kata terakhir, setiap mahasiswa berhak mengaktualisasikan dirinya sesuai dengan potensi dan kompetensi yang dimiliki.

Sekian!!!!

Perjuangkan bahwa BEM FIP adalah milik seluruh mahasiswa FIP UNY, tanpa terkecuali!!

Yogyakarta, 25 Oktober 2004

Koordinator TEMAN FAIZ

Sofi Chamaludin

TIM ADVOKASI

Endang Artiati Suhesti

Eka

Danang

Pulung

Dita

Rohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s