TERBALIK!!! (sebuah Cerpen)


TERBALIK!!!

Oleh: Faiz Emha

Jam dikamarku melangkah pukul 2, sang bulan masih bertengger di langit bumi. Sekeliling rumahku sudah tak ada kehidupan. Hatiku sudah mantap. Akhirnya kulakukan juga yang selama ini kutentang dalam hati, minggat. Tak ada yang tenang dirumah ini, semuanya selalu sama, hanya adu mulut yang kudengar tiap detik. “Kapan kita bakal kaya kerjamu hanya jadi kuli?” bentak simbok pada pakne.

Malam ini tak ada yang aku tuju, otakku hanya mengajak kakiku untuk terus berjalan. Dalam keheningan malam ternyata masih ada kehidupan di sebuah bar. Dengan malas aku menuju kesana, “segelas bir mungkin akan menenangkanku” pikirku. Ketika seteguk masuk kedalam kerongkongan, aku langsung terinagt dengan kata guru agamaku. “Sekali saja kamu merasakan minuman keras, segala ibadahmu selama 40 hari tak kan diterima Tuhan”. “ ah, itu kan cuma omongan aja, toh yang paling berkuasa kan Dia sendiri! Tahu apa guru agama itu?!” hatiku mulai berontak.

Seteguk demi seteguk, gelas demi gelas, botol demi botol sudah kuhabiskan hanya dalam beberapa menit. Suara meracau dari mulutku mulai keluar. “Mas, nggak usah minum lagi! Sampeyan udah mabok tuh!” pelayan bar tiba-tiba mencegahku minum lagi. “Tahu apa kamu, yang ngarain mabok itu aku, bukan kamu! pergi sana!” langsung kuusir saja pelayan itu.

Tak kurang beberapa saat, muncul 2 orang berbadan tegap. Sepertinya mereka adalah penjaga bar ini. “Maaf mas, anda tidak usah minum lagi. Silakan bayar tagihan anda!” kata pria yang bertato tengkorak di lehernya. “Hah, kamu ngusir aku!” aku mulai berontak “nggak tahu orang seneng!!” ucapku sambil melemparkan tinjuku kemukanya. Pria itu langsung mengelak sedang aku terjerembab dilantai. Kedua pria langsung menyeretku kebelekang bar, dan “ bak…buk..bak..buk..”. Hidung dan mulut mulai berdarah, dan aku mulai tak sadar.

Beberapa saat kemudian, aku sudah mulai sadar. “bangsat, sakit sekali tubuhku!” aku mulai berjalan menuju jalan raya. Saat melewati sebuah daerah pertokoan, aku melihat seseorang yang sudah tak asing lagi, Pakne. Dia sepertinya sedang menikmati canda dengan para wanita itu. Aku berjalan menuju rumah itu. Beberapa meter dari rumah itu aku tersandung “brukk..”. “sialan, apa ini?” umpatku. Kubuka bungkusan yang menyandungku. Didalamnya ternyata ada senjata yang digunakan dalam keadaan terdesak, botol.

Dalam keadaan mabok, aku memecahkan botol dan menuju pakne. Dia tidak menyadari kedatanganku, tapi tiba-tiba wanita itu menjerit masuk kedalam rumah. Otakku sudah tidak ingat lagi dengan pelajaran agama yang kudapatkan di pesantren. Dan, “prat”, darah memuncrat dimukaku. Pecahan botol sudah kutusukan di perut pakne. Tapi dia malah tertawa, dan berkata “ ha..ha…ha.. aku nggak bakalan mati, tapi kamu yang mati! Ha..ha..ha..”. Perutku tiba-tiba sakit, seketika aku langsung terbangun dari mimpi. Tapi di atas perut sudah ada pakne menusukkan pisau diperutku. Berulangkali kali pakne ngomong “ ha..ha…ha.. aku nggak bakalan mati, tapi kamu yang mati! Ha..ha..ha..”.

KamarSyech, 31 Januari 2004-01-31

PS: Cerpen pertama ku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s