WANITA DAN SEKOLAH (resensi film Monalisa Smile)


WANITA DAN SEKOLAH

Judul film        : Mona Lisa Smile

Sutradara        : Mike Newell

Skenario         : Lawrence Konner dan  Mark Rosenthal

Pemain            : Julia Roberts, Julia Stiles, Kirsten Dunst, Juliet Stevenson,

  Maggie Gyllenhaal, Ginnifer Goodwin, Dominic West

            Pada tahun 60-an, kaum perempuan di Amerika ternyata juga mengalami masa dimana sekolah merupakan batu loncatan untuk menikah. Tak ada keinginan untuk melanjutkan kuliah, cincin tunangan menjadi harta tak ternilai dibanding pendidikan yang lebih tinggi. Itulah yang coba digambarkan oleh Mike Neweel (sutradara Donnie Brasco) lewat film Mona Lisa Smile.

            Dibuka dengan adegan di Wellesley College tahun ajaran 1953-1954. Pada musim gugur Katherine Watson (Julia Roberts) memasuki tempat kerjanya. Sebagai dosen sejarah seni yang baru datang dari California, tak heran jika dia berharap banyak dari Wellesley College yang konon memiliki siswi-siswi yang baik.

            Pada hari pertama mengajar, Katherine yang kukusan UCLA terkesima dengan pengetahuan siswi di kelasnya yang telah membaca semua buku teks. Mereka semua mengetahui  lukisan yang diperlihatkannya. Pertemuan pertma ini membuat Katherine tertantang untuk mengubah silabus. Mengenalkan seni modern dan menantang siswinya menilai karya seni berdasarkan pikirannya sendiri.

            Lambat laun gaya mengajarnya bisa diterima dan membuatnya menjadi dosen yang disukai. Menjelang pergantian tahun ajaran, kelasny jadi rebutan dan menjadi favorit. Padahal yang dilakukannya membuat beberapa orang tidak senang. Bahkan Katherine di cap subversif dalam editorial majalah sekolah.

            Wellesley College yang masuk dalam kawasan New England ternyata masih mengikuti nilai-nilai konservatif. Bagi mereka pendidikan tinggi itu kecil nilainya di banding dengan sebuah cincin pertunangan. Menikah, punya anak, dan hidup bahagia, adalah impian banyak wanita di masa itu.

            Menurut Katherine, sayang jika mereka tidak melanjutkan kuliah mengingat potensi yang mereka miliki. Hal itu yang menyebabkan dia membujuk  Joan Brandwyn (Julia Stiles) mendaftar masuk fakultas hukum di Universitas Yale. Tanpa di duga, Joan diterima. Ternyata hal itu menimbulkan masalah, pasalnya dia menunggu lamaran pria yang dicintainya.

            Sahabat Joan, Betty Warren (Kirsten Dunst) sudah lebih dulu menikah. Dialah yang menjabat sebagai editor di majalah sekolah dan sikapnya selalu sinis terhadap pemikiran Katherine. Lewat tulisannya di majalah sekolah, Betty telah menyingkirkan perawat sekolah, Amanda Armstrong (Juliet Stevenson) yang membagikan alat kontrasepsi secara gratis. Menurutnya, tindakan ini mengarah kepada kehidupan seks bebas di kalangan mereka.

            Di Wellesley College, Katherine dikelilingi banyak siswa. Naum hanya 4 orang yang diceritakan secara lebih detail. Joan yang bingung diantara 2 pilihan, Connie Baker ( Ginnifer Goodwin) yang menginginkan pacar, Gissele Levy (Maggie Gyllenhal) yang punya kehidupan berbeda dengan teman lainnya dan dia juga tidur dengan beberapa pria termasuk guru bahasa Italia Bill Dunbar (Dominic West) yang tertarik pada Katherine.

            Kisah ini terinsprirasi dari pengalaman Hillary Rodham Clinton (istri mantan presiden AS) selama sekolah di Wellesley College Selain Hillary, tercatat pula Madelaine Albraight, dan Madame Chiang Kaishek sebagai alumni sekolah. Ditambah lagi dengan penemuan tulisan di Majalah The Wellesley News terbitan tahun 1956 oleh Lawrence Konner dan  Mark Rosenthal yang headline-nya tentang survey yang menunjukkan bagaimana wanita menikah berhasil menjadi siswi yang baik.

            Film berdurasi 115 menit terasa lambat karena ada beberapa adegan yang rasanya tak perlu berlama-lama. Selain itu skenario Konner dan Rosenthal juga tak terlalu tajam mengangkat inti permasalahan, sehingga terkesan memandangnya secara hitam-putih. Menikah atau sekolah? Padahal keduanya bisa dijalani dengan baik. Dan ini memang sempat terlontar dari bibi Katherine.

            Peran Katherine dalam film ini juga terlihat sedikit walau ini bukan film tentang Katherine. Namun setidaknya bisa membuat penonton akan lebih mampu untuk memahami karakternya yang ngotot memperjuangkan keyakinannya. Dalam film ini akting Kirsten Dunst terbilang sukses dalam memerankan tokoh Betty. Setiap kata-katanya membuat telinga orang memerah. (MH)    

2 thoughts on “WANITA DAN SEKOLAH (resensi film Monalisa Smile)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s