BEM REMA UNY: Lembaga yang hanya memandang sesuatu dari hal-hal yang negatif


Nah kawan-kawan, sekarang saya posting artikel yang menunjukkan hal itu….kasih comment deh apakah mereka bener2 seperti judul diatas: diambil dari http://bem.uny.ac.id

“KOPMA” By azwin, on 04-05-2008 21:46

Views : 39

Dunia akan terasa hampa tanpa ada musik, dunia seakan tak berwarna tanpa adanya sebuah seni. Dan tanpa ada kasih sayang, dunia ini seakan-akan berhenti berputar.

Kasih sayang merupakan kebutuhan setiap insan. Orang tidak bisa hidup tanpa kasih sayang. Alangkah baiknya dan sungguh mulia jika seluruh umat manusia menanamkan sikap saling mengasihi dan saling menyayangi.
Nampaknya kasih sayang merupakan sebuah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Begitu pentingnya kasih sayang, maka orang pun berusaha memperingatinya dengan hari kasih sayang yang jatuh setiap tanggal 14 Februari. Inilah yang disebut hari valentine, hari kasih sayang yang sering ditunggu-tunggu dan diperingati oleh banyak orang.
Di pelataran KOPMA UNY pun juga tidak ketinggalan dalam memperingati hari tersebut. Sebuah pertunjukan digelar oleh UKMF CAMP bekerja sama dengan pihak luar yakni dari Grasindo. Namun dalam acara tersebut muncul sebuah pertunjukan dari sexy dance. Dengan mengenakan pakaian yang sexy para personil sexy dance tanpa canggung dan ragu beraksi menampilkan dance yang mampu membius para penontonnya. Apakah ini juga termasuk bagian dari pengungkapan kasih sayang ?
Perlu diketahui bahwa pertunjukan sexy dance yang sebagian orang mengatakan itu adalah pertunjukan yang mengumbar aurat tersebut dilakukan di kampus pendidikan UNY tepatnya di pelataran KOPMA UNY. Ini adalah sebuah tempat terbuka umum, yang siapa saja bisa datang dan melihatnya termasuk anak kecil.
Dengan adanya pertunjukan tersebut maka banyak mahasiswa dan dosen yang kecewa dan tidak setuju dengan kegiatan tersebut. Pertunjukan tersebut dirasa tidak pantas ditampilkan di sebuah kampus pendidikan. Menurut Anisa, mahasiswa PBSI 2007 (22/04/08) kegiatan semacam itu mengganggu, bising dan bisa mempengaruhi kepribadiaan. Serta lebih banyak dampak negatifnya daripada dampak positifnya.
Saat dilakukan konfirmasi ke pihak CAMP (27/3/08), pihah CAMP mengatakan bahwa mereka hanya memfasilitasi dan mengurus perijinan tempat ke rektorat,dan tidak ikut bertanggung jawab atas pertunjuan tersebut. Mereka mengatakan bahwa EO dari kegiatan tersebut berasal dari pihak Grasindo. Mereka juga tidak mendapatkan apapun dari kegiatan tersebut. Menurut mereka tujuan dari kegiatan tersebut adalah memberikan hiburan serta pembelajaran seni modern. Kemudian saat ditanya masalah tanggapan orang terhadap kegiatan tersebut, pihak CAMP mengatakan itu tergantung dari individu masing-masing. Jika orang berfikir positif maka ia akan menganggap pertunjukan itu baik, dan jika orang itu berfikiran negatif maka pertunjukan tersebut dianggap buruk.
Pihak CAMP juga mengatakan bahwa keuntungan yang mereka dapat dari kegiatan tersebut adalah mereka bisa belajar mengelola kegiatan, serta mereka bisa memperluas jaringan yakni dengan mendapatkan link dari luar.
Dari pihak rektorat melalui H. Sutrisna Wibawa, M.Pd selaku PR II (23/04/08) mengatakan bahwa kegiatn tersebut tidak pantas dilaksanakan di kampus pendidikan. Beliau juga tidak setuju dengan kegiatan semacam itu. Beliau juga mengakui kalau selama ini memang belum ada pengawasan dari rektorat. Di sisi lain Prof. Dr. Herminarto Sofyan selaku PR III (23/04/08) mengatakan bahwa itu merupakan sebuah penyelewengan dari sebuah perijinan kegiatan. Beliau juga mengatakan bahwa jika terjadi kegiatan semacam itu lagi maka dengan tegas akan langsung di beri teguran keras.
Namun nampaknya ungkapan beliau, tak lebih dari sekedar isapan jempol saja. Terbukti masih bebasnya penggunaan pelataran KOPMA oleh oleh pihak luar setelah konfirmasi tersebuit. Bahkan tak jarang oleh perusahaan rokok yang “ non sponsor “ GOR dapat dengan mudah melakukan kegiatan di tempat tersebut. Tak jarang bahkan dengan vulgar menjajakan rokok dengan harga khusus ke mahasiswa.
Memang jika dicermati mekanisme perijinan terasa sangat mudah, tanpa disertai sebuah pengwasan terhadap pelaksanaan kegiatan. Sehingga sering kali sebuah penyelewengan dibiarkan begitu saja. Akankah ini terus berlanjut? hanya waktu yang dapat menjawabnya.

Last update : 04-05-2008 21:46

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s