Szhizoprenia (saya lupa dapat dari mana)


Schizoprenia adalah satu penyakit yang bisa dikatakanpenyakit jiwa atau gila, tapi dalam keadaan biasa orang berpenyakit ini normal. Istilah ini dianjurkan oleh Eugen Bleuler ( 1857-1938), karena nama ini dengan tepat sekali menonjolkan gejala utama penyakit ini, yaitu jiwa yang terpecah-belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir , perasaan dan perbuatan ( schizos= pecah belah atau bercabang, phren= jiwa).

Inti gangguan terdapat pada proses pikiran. Yang terganggu terutama ialah asosiasi. Kadang-kadang satu ide belum selesai diutarakan, sudah timbul idea lain, atau terdapat pemindahan maksudnya. Suatu ketika saya bertemu dengan seseorang yang terganggu pikirannya, dipinggiran jalan kereta. Ia menghampiri saya lalu menyodorkan segenggam puntung rokok. Saya mencoba merespon tindakan dia sambil menanyakan : untuk apa puntung rokok itu? Wujud-Qidam-Baqo’ jawabnya sambil tertawa puas. Inilah yang dinamakan inkohenrensi atau yang mudah dibelokkan.

Tadinya ia bermaksud menjawab bako (jawa: tembakau), semakin kita respon semakin parah inkohensinya, sehingga ia tidak bisa menemukan kembali tema pembicaraannya karena sudah berbelok jauh. ibarat kuis kata berkait atau kata pelesetan. Ada penderita yang mengatakan bahwa seperti ada sesuatu yang lain didalammya yang berfikir, timbul ide-ide yang tidak dikehendaki, kadang-kadang penderita melamun berhari-hari lamanya, bahkan berbulan-bulan.

Perilaku demikian erat hubungannya dengan otisme dan stupor katatonik. Keadaan ini jika berlangsung lama akan mengakibatkan halusinasi seperti penampakan mistik, halusinasi pendengaran, halusinasi penciuman. Pengalaman ini juga bisa terjadi terhadap orang normal atau juga terhadap orang orang yang terserang epilepsi (ayan). Sehingga kaum orintalis menuduh Nabi Muhammad mengidap penyakit epilepsi, karena pada proses penerimaan wahyu di Ja’rana dibawah pohon korma beliau mengalami kejang-kejang (bergetar keras) dan keluar suara orokon dari mulutnya, seperti orang terserang epilepsi. Salman Rusydi memperparah tuduhan itu yang ditulis dalam novel berjudul “Satanic Verses” bahwa Rasulullah pernah terjebak oleh bisikan setan, saat beliau dianggap sakit ayan ( epilepsi ), padahal ketika itu beliau sadar.

Sebagaimana kisah yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Shafwan Ibnu Ya’la Ibnu Umayyah, berkata : Ya’la mengabarkan: Aku berkeinginan melihat Rasululallah kala turun wahyu kepadanya. Ya’la berkata: Sementara Nabi berada di Ja’ranah, berteduh dibawah sehelai kain beserta beberapa sahabat, tiba-tiba datanglah seorang Badui berbaju

jubah yang berlumur dengan bau-bauan, lalu bertanya: Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau mengenai seorang yang berihram untuk umrah dengan jubah yang berlumuran bau-bauan? Maka Umar memberi isyarat kepada Ya’la, mengajak masuk ke tempat Nabi berteduh, Ya’la melihat Nabi telah merah mukanya dan terus tertidur serta mengeluarkan orokan seperti orang epilepsi. Sesaat kemudian Nabi sadar (terbangun), lalu Nabi berkata: Mana orang yang baru saja bertanya tentang umrah? sesudah orang itu dicari dan datang, Nabi berkata : Bau-bauan itu hendaklah kamu basuhnya tiga kali, sedang jubah itu haruslah kamu tanggalkan dari badanmu, sesudah itu berbuatlah apa yang kamu buat untuk haji.

Penelitian Persinger dan Ramachandran , serta para neurology dan psikolog yang telah mengkaji aktivitas God Spot (Titik Tuhan) dalam hubungannya pengalaman mistik oleh penderita schizofrenia (kegilaan) dan pengalaman para spiritualis berupa kreativitas yang sehat (Normal), ternyata ada korelasi antara rangsangan pada lobus temporal atau area lembik dengan pengalaman abnormal (kemampuan yang luar biasa). Namun ada perbedaan penting antara pengalaman orang normal dan penderita sakit mental. Michael Jackson meraih gelah doktor di Universitas Oxford pada bidang ini. Meskipun dia membenarkan adanya kemiripan antara pengalaman penderita mental dan orang normal, dia mengamati bahwa pada umumnya, deskripsi yang diberikan oleh kelompok klinis (maksudnya pasien mental) lebih bersifat negatif, kacau, dan kabur baik dalam hal caranya maupun isinya.

Untuk membuktikan hal ini Dr Pesinger melakukan penelitian dengan merangsang secara buatan lobus temporal pada otak dengan medan magnet. Dia berhasil mengenali dan menyelidiki dengan berbagai pengalaman mistik. Hal ini membuktikan bahwa pengalaman mistik adalah hal yang ilmiah. Bukan karena belajar spiritual akhirnya menjadi gila. Tetapi apapun yang dipelajari jika dimulai dengan perasaan tidak nyaman dan membuat pikiran berbelit-belit dan penuh konflik, akan menimbulkan kegilaan atau schizofrenia.

Jiwanya terbelah!! anda bisa gila gara-gara putus cinta, anak anda mati, mempelajari agama yang salah, dan juga akibat trauma perang bagi tentara amerika di Vietnam banyak yang gila dll. Pengalaman penderita schizofrenia lebih bersifat mengganggu dirinya dari pada meneguhkan atau mengilhamkan. Penderita mental lebih cenderung tenggelam (sulit berjarak dengan pengalaman tersebut) daripada orang normal, dan kehilangan kontak dengan realitas dalam jangka waktu yang lebih lama, dengan menunjukkan perilaku tidak wajar.

Berbeda dengan orang normal penderita mental sulit mengaitkan pengalaman spiritual yang mereka alami dengan kehidupan sehari-hari sehingga pengalaman itu tidak banyak berdampak positif bagi mereka. Sementara Rasulullah tetap sadar walaupun secara fisik beliau seperti tertidur, akan tetapi pengalaman itu berjarak dengan kesadarannya, sehingga beliau mampu memberikan wejangannya dari hasil pengalamannya tersebut.

Inilah yang membedakan mana ilham atau pengalaman mistik bagi pengidap schizofrenia. Maka jelas sekali alasan agama untuk tidak memberlakukan hukum bagi penderita schizofrenia.Sehingga ia sadar kembali. Berbahayakah belajar spiritual? Sering kali kita mendengar selentingan orang awam : “hati-hati lho, belajar tasawuf nanti bisa gila’. Ada yang dengan sinis mengatakan : “itu kaum bid’ah dan khurafat, karena Rasulullah tidak pernah mengajarkannya”. Tasawuf atau spiritual Islam dalam sejarahnya telah berjalan ratusan tahun.

Kitab Tasawuf Ihya Ulumuddin karangan Imam Al ghazaly telah berusia lebih dari seribu tahun dijadikan kurikulum di pesantren-pesantren di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Kalau belajar tasawuf bisa menggilakan orang, mestinya orang yang paling dulu gila Syekh Hasan Al Banna dan Sayyid Hawwa ulama besar Mesir yang telah banyak merujuk setiap fatwanya dengan menghidupkan hati ( ihya’ul qulub) yang banyak dianjurkan Al ghazali.

Apalagi kini Sayyid Hawwa menganjurkan bagi para pejuang pergerakan Islam (harokah) membaca kitab Ihya yang beliau buat intisarinya agar mudah dicerna. Kita tidak bisa memungkiri keberadaannya dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Tokoh sembilan wali merupakan orang yang memilki ilmu tasawuf tinggi, yang berjuang membangun khasanah Islam dari budaya Hindu yang kuat menjadi Islam yang membumi, bukan dengan jalan perang tetapi pendekatan kultural yang mudah diterima oleh masyarakat setempat. Inilah fitnah bagi yang tidak suka tasawuf dan spiritual. Namun kini tasawuf semakin terkuak kebenarannya secara ilmiah, di Amerika spiritual banyak dipelajari dan dikategorikan pelajaran ilmu psikologi modern yaitu Psikologi transendental. Sehinggga kaum yang anti tasawuf sekarang kebingungan ternyata mereka merasakan kekeringan karena kerohaniannya telah kering kerontang.

Dunia ilmu pengetahuan telah membuktikan pada abad ini bahwa Spiritual ternyata lebih cerdas ketimbang kecerdasan pikiran ( IQ ), jadi bukan membuat gila orang akan tetapi justru menyelamatkan pikiran yang kacau menjadi tenang dan tentram serta cerdas. Hanya dengan berdzikir hatimu akan menjadi tenang. Kalau ada orang belajar tasawuf kemudian gila, perlu dikaji terlebih dahulu apa penyebabnya. Saya khawatir justru orang ini tidak mempelajari tasawuf dengan benar, mungkin hanya baca buku tetapi tidak mengerti maksudnya atau belajar kepada orang yang belum mumpuni soal kejiwaan sang murid, sebab kemampuan sang guru dalam hal ini sangat penting. Bagi orang yang memiliki kejiwaan yang tinggi akan mempengaruhi orang lain menjadi terangkat jiwanya, sehingga apabila sang murid mengalami kekacauan mental ia akan merasa nyaman dan tenang. Ia berada pada track yang benar secara otomatis.

Mardianto (40 Th ) karyawan disebuah perusahaan Swasta Jakarta . Menceritakan pengalamannya. Ketika itu saya shalat sendiri di mushalla. Tidak ada orang yang bisa saya ajak untuk berjamaah. Kemudian pada rakaat berikutnya ada yang menepuk pundak saya, mengisyaratkan untuk ikut gabung berjamaah dengan saya. Saat orang dibelakang bertakbir terasa sekali getaran yang sangat kuat mempengaruhi rohani saya bertambah khusyu’, seolah jiwa saya ditancapkan pada keadaan hening yang sangat luar biasa yang belum pernah saya alami.

Belakangan saya ketahui orang yang dibelakang saya tadi adalah orang yang ahli dalam kerohanian. Ternyata ia tekun mempelajari Spiritual. Sebenarnya banyak sekali contoh pengalaman seseorang yang setelah berdekatan dengan orang yang hidup jiwanya maka orang yang kalut pikirannya tadi akan menjadi tenang dan damai. Anda bisa berbagi dengan cerita rekan-rekan yang telah bergabung dalam majelis dzikir di Jakarta.

Karena ketika anda berkumpul dengan mereka terasa sekali getaran itu menyelimuti pikiran dan hati yang syahdu. Sehingga kami rajin mengadakan kunjungan dan latihan bersama dalam berdzikir, karena kenikmatan silaturrahmi benar-benar terasa. Yang terpenting lagi shalat kita menjadi ‘nyambung’, tidak keluar dari track-nya lagi. Ingat, shalat yang melamun merupakan ciri dari ketidak khusyuan. Dan melamun panjang ciri orang menjelang sakit schizofrenia. Yang akan berdampak minimal tidak mampu mengendalikan emosinya dan syahwatnya. Shalat yang demikian inilah yang dialami banyak orang, sehingga akibatnya shalat tidak lagi sebagai penangkal kejahatan dan kekejian bangsa. Shalat merupakan beban yang menyesakkan hidup kita, sebagaimana sabda Rasulullah : Kammin qaaimin hadzdzuhu min qiyamihi at ta’aabu wan nashab ( hadis shahih) Berapa banyak orang yang melakukan shalat tetapi hanya mendapatkan capek dan lelah.

Angga Universty Press 1990, SQ, Danah Zohar dan Ian Marshall,

Mizan 2001

Abu Sangkan

Referensi : Ilmu kedokteran jiwa W.F Maramis Airlangga

Universty Press 1990, SQ, Danah Zohar dan Ian Marshall,

Mizan 2001

2 thoughts on “Szhizoprenia (saya lupa dapat dari mana)”

  1. mm..Sy sedang mencari tau ttng szhizoprenia.
    Apakah umi ku Mengidap Penyakit Ini.. atas halusinasi dan kekhawatiran yng terlalu tinggi..banyak bisikan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s