Arsip Tag: Bimbingan dan Konseling

Menangani Bisnis Online di Kaskus


Apa kabar kawan!? lama tak menulis disini…

Sepertinya kesibukan saya  ternyata kadang menjadi salah satu hal yang mempengaruhi kegiatan saya dalam menulis. Salah satu yang terlihat jelas ya produktifitas saya blogging. Aneh menurut saya, soalnya saya sering memperkenal kan diri saya kepada murid saya kalo saya adalah blogger. Realitanya, padahal saya saat ini lebih sering ngaskus alias maen dan nyampah di kaskus di kaskus :nohope :)

Oh iya, seperti saya sudah menceritakan kan kalo main job saya sekarang sudah tak lagi aktif sebagai free marcomm di salah satu perusahaan, tapi saat ini saya adalah seorang GURU BIMBINGAN DAN KONSELING, dan saya bangga akan hal itu. Lha wong saya jadi guru karena saya ketrima CPNS di Kota Jogja jeh :)… :nohope :)

Diluar saya sebagai guru, saya juga masih aktif sebagai Booking Agent Kontak Band Artis Indonesia di kontakbandartis.com. Ini adalah salah satu side job saya sebagai guru :hammer :D. Selain itu juga, saya juga aktif sebagai kaskuser hehehe… Menjadi Guru, apalahi Guru BK dan ngaskus ternyata memberikan keuntungan tersendiri. Pasalnya, sangat jarang ada Guru BK yang ngaskus. Kalo guru bidang studi mungkin banyak :). Saat ini, total sudah ada 2 id kaskus saya yang ISO. Artinya, saya punya klonengan :D. Awalnya cuma untuk sekedar bisa barter cendol biar cendol saya berderet banyak, tapi dalam perkembangan ternyata malah dapat menghasilkan duit :)..kok bisa!?

Oke saya ceritakan, kurang lebih awal januari lalu, kebetulan saya mulai memantau aktivitas jualan kakak saya yang berjualan di kaskus. Saya..eh, aku aja ya :)…aku melihat sepertinya lapaknya tidak sangat menarik. Terlihat acak-acakan, akhirnya..saya menawarkan diri menjadi online shop keeper lapak kakak ku..so pasti, tidak gratis lah..pasalnya, paket shop keeper yang saya, aduh ngulang lagi nih, tawarkan ke kakak saya juga menjadi marcomm consultant, alias saya juga manangani promosi yang ada di lapak kakak ane..hadeh, bahasa kaskus nih :nohope :). Lanjutkan membaca Menangani Bisnis Online di Kaskus

RESUME TEORI PENDEKATAN KONSELING RATIONAL EMOTIVE THERAPY


RATIONAL EMOTIVE THERAPY

A. Konsep Dasar

Menurut Albert Ellis, manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atau emosional tersebut merupakan akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional, yang mana emosi yang menyertai individu dalam berpikir penuh dengan prasangka, sangat personal, dan irasional.

Berpikir irasional ini diawali dengan belajar secara tidak logis yang biasanya diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari kata-kata yang digunakan. Kata-kata yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan kata-kata yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.

Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Antecedent event (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.

  1. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
  2. Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
  3. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.

Selain itu, Ellis juga menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus me­lawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psi­kologis positif dari keyakinan-keyakinan yang rasional.

Sebagai contoh, “orang depresi merasa sedih dan ke­sepian karena dia keliru berpikir bahwa dirinya tidak pantas dan merasa tersingkir”. Padahal, penampilan orang depresi sama saja dengan orang yang tidak mengalami depresi. Jadi, Tugas seorang terapis bukanlah menyerang perasaan sedih dan kesepian yang dialami orang depresi, melainkan me­nyerang keyakinan mereka yang negatif terhadap diri sendiri. Lanjutkan membaca RESUME TEORI PENDEKATAN KONSELING RATIONAL EMOTIVE THERAPY

APAKAH KITA KONSELOR,…ATAU GURU BIMBINGAN DAN KONSELING?(Sebuah pencarian jati diri mahasiswa Bimbingan dan Konseling)


Alkisah, ada seorang pemuda yang menempuh pendidikan di sebuah universitas ek-IKIP di Jogja. Dia mengambil program studi bimbingan dan konseling. Dengan niat menggebu untuk menjadi seorang konselor, beberapa tahun awal kuliah, dia berusaha sekuat tenaga untuk bisa mendapatkan ilmu menjadi konselor. Mata kuliah yang dia dapatkan memang top, seperti, Bimbingan dan Konseling (BK) Industri, BK Masyarakat, BK Karir, BK Sekolah, dll.

            Dengan bekal mata kuliah itu, dia merasa yakin bahwa jurusan yang dia ambil adalah jurusan yang sesuai dengan keinginan dia, menjadi KONSELOR. Dalam mata kuliahnya dijelaskan bahwa, BK tidak hanya berada di sekolah. Itu memang benar pikirnya, karena ada mata kuliah BK Industri (BK untuk Industri), dan lain sebagainya.

Tapi dia seperti terhenyak ketika melihat gelar yang didapatkannya nanti, yaitu Sarjana Pendidikan a.k.a S.Pd a.k.a gelar yang dipakai seseorang untuk resmi menjadi GURU. Dalam alam pikiran pemuda itu, ternyata kuliah di BK cuma buat jadi GURU. Terus, apakah bisa GURU BK bisa disebut konselor? Bukankah GURU itu adalah pendidik? Bukankah KONSELOR adalah orang yang membantu seseorang untuk bisa menyelesaikan masalahnya? Apakah KONSELOR harus terkungkung dalam lembaga bernama sekolah yang membuat kita identik menjadi GURU? Apakah untuk menjadi KONSELOR harus belajar di Institusi pendidikan?